Senin, 29 Juni 2009

TEKNOLOGI PAKAN BAHAN LOKAL ( SINGKONG )

Pakan merupakan komponen penting di

dalam industri peternakan. Produksi

peternakan dunia meningkat seiring dengan

peningkatan di dalam permintaan hasil-hasil

ternak (daging, telur, susu). Produksi dan

konsumsi daging dunia, diperkirakan akan

meningkat dari 233 juta ton pada tahun 2000

menjadi 300 juta ton pada tahun 2020,

permintaan susu 568 menjadi 700 juta ton,

demikian juga dengan telur, akan meningkat

sampai 30% (FAO, 2002). Khusus di Asia,

dengan terkonsentrasinya populasi dunia di

benua ini maka kebutuhan produk peternakan

akan sangat tinggi dan hal ini akan berkaitan

dengan kebutuhan pakan untuk meningkatkan

produk peternakan.

Indonesia masih mengimpor bahan-bahan

penyusun pakan seperti jagung, kedelai dan

tepung ikan. Untuk mengatasi masalah tersebut

perlu dilakukan langkah-langkah peningkatan

penyediaan bahan pakan. Bahan pakan ternak

non-konvensional dari limbah pertanian sudah

banyak dikenal dan dicobakan pada ternak.

Limbah padi (dedak) tersedia sepanjang tahun,

demikian pula limbah singkong (daun, ampas

tapioka/onggok). Lumpur sawit dan biji karet

merupakan produk pertanian/perkebunan yang

cukup melimpah, demikian juga kulit buah dan

biji coklat (cocoa pod husk), limbah nenas dan

sebagainya. Sebagai negara agraris Indonesia

memiliki potensi limbah pertanian dan

agroindustri yang beragam (Tabel 1).

Umumnya nilai gizi limbah pertanian sangat

rendah, terutama dari segi kandungan protein;

selain itu limbah pertanian mengandung serat

kasar tinggi, sehingga menyebabkan nilai

ketercernaannya rendah. Untuk mengatasi hal

ini dan meningkatkan nilai gizi limbah

pertanian, teknik fermentasi dengan kapang

merupakan alternatif yang menjanjikan.

Beberapa jenis kapang yang sering

dipergunakan untuk fermentasi adalah

Aspergillus niger, Rhizopus oligosphorus

(kapang tempe), Neurospora crassa (kapang

oncom merah) dan lain-lain. Di dalam proses

fermentasi, kapang merubah senyawa-senyawa

yang ada di dalam substrat untuk pertumbuhan

dan pembentukan protein, sehingga produk

fermentasi merupakan bahan pakan dengan

kandungan protein yang lebih tinggi. Selain itu

terjadi pula perombakan bahan-bahan yang

kompleks menjadi lebih sederhana sehingga

mudah dicerna dan diserap oleh ternak.

Perombakan ini terjadi karena pada proses

fermentasi, kapang memproduksi enzim.

Keuntungan ganda diperoleh dari fermentasi

limbah yaitu kandungan protein meningkat dan

enzim yang diproduksi kapang membantu

dalam kecernaan bahan.

Tabel 1. Beberapa komoditas pertanian dan

limbahnya

Komoditas Limbah

Padi Jerami, sekam, dedak, bekatul

Singkong Daun, kulit singkong, onggok

Tebu Pucuk tebu (cane top), ampas

tebu (bagasse), molasse

Kopi Kulit biji kopi, ampas kopi

Kapas Bungkil biji kapas

Kedelai Bungkil kedelai, ampas tahu,

ampas tempe

Jagung Kulit buah (corn stover),

tongkol jagung (corn cobs)

Coklat Kulit coklat (cocoa pod)

Kulit biji coklat (cocoa husk)

Sawit Tandan kosong (tankos),

serabut (Fiber), tempurung,

bungkil inti sawit, lumpur

sawit, Heavy phase



SINGKONG/KETELA POHON


Parutan singkong mentah dapat dijadikan

bahan pakan pokok ayam buras yang dipelihara

secara intensif. Singkong dapat diberikan

dalam bentuk mentah (segar) ataupun setelah

melalui pengolahan misalnya gaplek atau aci.

Penggunaan tepung gaplek dalam ransum tidak

lebih dari 40%. Dalam bentuk mentah,

singkong sebaiknya digunakan dalam tempo 24

jam setelah masa panennya. Lebih dari tempo

itu maka nilai gizinya akan menurun (rusak).

Selain umbinya, daun singkong juga sudah

dimanfaatkan sebagai bahan pakan, baik dalam

bentuk tepung ataupun dalam bentuk segar

(sebagai hijauan). Tepung daun singkong ini

dapat menggantikan kacang hijau dan kedelai

sampai jumlah 8%.

Pengolahan singkong untuk pembuatan

tepung tapioka menghasilkan limbah yang

dikenal sebagai onggok. Onggok yang

penanganannya baik dan proses

pengeringannya cukup akan tetap berwarna

putih dan dapat dipakai dalam berbagai industri

pangan. Onggok merupakan limbah pertanian

dengan kandungan protein sangat rendah

bahkan hampir tidak ada (0-1%, BK). Untuk

meningkatkan kandungan protein onggok dapat

dilakukan proses fermentasi. Pada unggas,

produk fermentasi pada umumnya tidak dapat

dicerna, namun kelinci yang membutuhkan

kadar serat kasar tinggi di dalam ransumnya,

mungkin lebih dapat meningkatkan efisiensi

pemanfaatan onggok tersebut. Fermentasi

onggok dengan A. niger, secara aerobik telah

dilakukan di Balitnak Ciawi-Bogor.

Hasil pengamatan pada kinerja kelinci

memperlihatkan bahwa pemberian onggok

tanpa fermentasi (OTF) sampai dengan 10%

pada ransum yang mengandung 16% protein,

cenderung menurunkan bobot badan. Tetapi

onggok fermentasi (OF) dalam ransum kelinci

dapat meningkatkan bobot badan. Bobot badan

kelinci pada penggunaan OF 10 dan 20%

meningkat masing-masing 33 dan 29%

dibandingkan pada kontrol. Pemberian OF

pada level 30 dan 40% menurunkun bobot

badan. Pemberian OF sampai 20% masih bisa

diterima oleh kelinci.


Belakangan, PRAWIRODIGDO et al. (2000)

mendemonstrasikan pemanfaatan tepung ubi

ketela pohon sebagai komponen pakan ayam

lokal periode bertelur untuk menggantikan

jagung kuning giling yang pada saat itu sulit

diperoleh. Kegiatan ini membandingkan tiga

macam formula pakan isolysine dan isoenergi

yang mengandung tepung ubi ketela pohon

(Tabel 7) tanpa biji jagung giling. Pengamatan

dilakukan selama 8 bulan produksi pada ayam

lokal terseleksi.

Selasa, 09 Juni 2009

A Sheep-goat hibryd

A sheep–goat hybrid is the hybrid offspring of a sheep and a goat. Although sheep and goats seem similar and can be mated together, they belong to different genera. Goats belong to the genus Capra and have 60 chromosomes, while sheep belong to the genus Ovis and have 54 chromosomes. This mismatch of chromosomes means any offspring of a sheep-goat pairing is generally stillborn. Despite widespread shared pasturing of goats and sheep, hybrids are poorly attested, indicating the genetic distance between the two species.


[edit] History

At the Botswana Ministry of Agriculture, a ram that was kept with a nanny goat impregnated the goat resulting in a live offspring that had 57 chromosomes. This was called "The Toast of Botswana". The hybrid was intermediate between the two parent species in type. It had a coarse outer coat, a woolly inner coat, long goat-like legs and a heavy sheep-like body. Although infertile, the Toast of Botswana had to be castrated to prevent unwanted sexual behaviour because it continually mounted the sheep and goats sharing its enclosure.[1]

In 1969, Australian farmer Dick Lanyon, who farmed near Melbourne, Australia, kept a billy goat among his sheep to scare off foxes during the lambing season. In September of the same year, he claimed to have dozens of ‘lambs’ which were sheep-goat hybrids. The goat was locked up while scientists examined the supposed hybrids. As no more was heard of this case, it is believed that the lambs were pure-bred sheep.

[edit] Characteristics

There is a long-standing belief in sheep–goat hybrids, which is presumably due to the animals' resemblance to each other. Some primitive varieties of sheep may be misidentified as goats. In Darwinism – An Exposition Of The Theory Of Natural Selection With Some Of Its Applications (1889), Alfred Russel Wallace wrote:

[...] the following statement of Mr. Low: "It has been long known to shepherds, though questioned by naturalists, that the progeny of the cross between the sheep and goat is fertile. Breeds of this mixed race are numerous in the north of Europe." Nothing appears to be known of such hybrids either in Scandinavia or in Italy; but Professor Giglioli of Florence has kindly given me some useful references to works in which they are described. The following extract from his letter is very interesting: "I need not tell you that there being such hybrids is now generally accepted as a fact. Buffon (Supplements, tom. iii. p. 7, 1756) obtained one such hybrid in 1751 and eight in 1752. Sanson (La Culture, vol. vi. p. 372, 1865) mentions a case observed in the Vosges, France. Geoff. St. Hilaire (Hist. Nat. Gén. des reg. org., vol. iii. p. 163) was the first to mention, I believe, that in different parts of South America the ram is more usually crossed with the she-goat than the sheep with the he-goat. The well-known 'pellones' of Chile are produced by the second and third generation of such hybrids (Gay, 'Hist, de Chile,' vol. i. p. 466, Agriculture, 1862). Hybrids bred from goat and sheep are called 'chabin' in French, and 'cabruno' in Spanish. In Chile such hybrids are called 'carneros lanudos'; their breeding inter se appears to be not always successful, and often the original cross has to be recommenced to obtain the proportion of three-eighths of he-goat and five-eighths of sheep, or of three-eighths of ram and five-eighths of she-goat; such being the reputed best hybrids."

Supposedly, most sheep–goat hybrids die as embryos (the famous geep is a chimera, not a hybrid). Hybrid male mammals are often sterile due to a phenomenon called Haldane's rule. The Haldane phenomenon may apply even when the parent species have the same number of chromosomes, as in most cat-species hybrids. It sometimes does not apply when the species chromosome number is different, as in wild horse (chromosome number = 66) with domestic horse (chromosome number = 64) hybrids. Hybrid female fertility tends to decrease with increasing divergence in chromosome similarity between parent species. Presumably, this is due to mismatch problems during meiosis and the resulting production of eggs with unbalanced genetic complements. from wikipedia